Sebelum
mengenal lebih jauh tentang pembelajaran diferensiasi mari kita melihat kembali
ke lingkungan sekitar. Sering kali kita melihat anak-anak yang bermain dalam
suatu kelompok dan memiliki karakter yang berbeda. Ada anak yang suka bercerita,
ada anak yang pendiam, ada anak yang suka menari, atau ada anak yang suka menjadi
pemimpin di kelompoknya. Dalam lingkup sederhana saja kita bisa menilai
perbedaan yang dimiliki setiap anak. Hal ini juga berlaku pada lingkup sekolah
dimana para siswa yang datang ke sekolah dengan berbagai macam karakter
berkumpul di satu tempat. Lalu bagaimana seorang guru mengatasinya?
Coba
bayangkan seorang siswa yang suka menari dipaksa untuk duduk diam di kelas selama
pembelajaran berlangsung setiap hari. Apa yang dirasakan siswa tersebut? Tentu
saja rasa bosan yang menghampiri! Pendidikan di Indonesia sekarang menerapkan
Profil Pelajar Pancasila dimana pembelajaran berfokus pada siswa. Otomatis
siapa yang aktif dalam pembelajaran? Tentu saja siswa! Oleh karena itu
pentingnya seorang guru memahami karakter anak sehingga bisa mengoptimalkan
pembelajaran. Sebagai contoh anak yang suka menari diberikan tugas untuk
memimpin ice breaking di kelas atau memeragakan hewan. Semangat siswa tersebut
akan lebih tinggi daripada hanya duduk diam di kelas sepanjang hari. Itulah
gunanya pembelajaran diferensiasi.
Pembelajaran
diferensiasi adalah pembelajaran yang memberikan ruang kepada setiap individu
untuk menemukan dan mengembangkan potensinya sehingga mampu berguna bagi
dirinya sendiri maupun lingkungan. Dengan memberikan ruang bagi siswa maka
diharapkan pembelajaran akan semakin mengarah pada konsep memanusiakan manusia.
Tantangan dalam pembelajaran diferensiasi ini adalah guru harus memahami
kesiapan belajar anak yang berbeda dan menentukan asesmen yang tepat.